Mengapa Wanita Lebih Banyak Menunda Pernikahan?

0
231

Wanita modern saat ini benar-benar menganut perjalanan hidup dan cita-cita dari wanita terhebat Negeri ini, R.A Kartini. Kartini yang begitu getol ingin membebaskan pandangan dunia terhadap wanita yang hanya dianggap memiliki ruang lingkup di rumah saja betul-betul dilanjuti oleh para kaum wanita sekarang ini. Mereka tidak lagi bisa dipandang berderajat bawah, tetapi setara dengan siapapun dengan berbagai hak yang juga seragam dengan laki-laki. Bahkan ada juga mereka yang sukses menjadi pemimpin Bangsa yang secara status sosial berderajat paling tinggi dari siapapun di dalam Negeri. Para perempuan sekarang memiliki orientasi yang sama denga laki-laki, yakni mengejar cita-cita dan berkarir. Tidak lagi ada pandangan soal wanita yang hanya memiliki gerak dalam rumah sebagai babu semata.

Namun kondisi ini membuat timbulnya pertanyaan-pertanyaan vital, mulai dari mengapa perempuan zaman sekarang banyak yang terlambat menikah, atau bahkan tidak menikah? Dan kenapa perempuan masa kini lebih banyak yang memilih untuk berkarir, atau melanjutkan pendidikan terlebih dahulu ketimbang berkeluarga?

Banyak hal ingin dicapai para wanita dalam kebebasan gerak yang mereka dapati di zaman sekarang ini. Tidak hanya adanya keinginan memperoleh penghasilan sendiri dan mengelilingi dunia, hidup mandirilah yang kerap menjadi alasan utama mereka untuk menunda pernikahan. Namun, tak bisa dipungkiri, bahwa pada dasarnya kaum perempuan sangat menginginkan sebuah pernikahan yang sempurna. Penundaan-penundaan seperti ini sering terjadi bukan karena keinginan nurani, naluri kaum wanita menginginkan hubungan yang harmonis dengan lawan jenis.

Hal seperti kebutuhan pribadi yang melonjak kadang kala menjadi alasan wanita dalam berkarir dan menunda pernikahan. Tetapi sebenarnya tidak hanya itu, beberapa alasan berikut merupakan fakta dari kaum wanita yang memilih menunda pernikahan:

– Belum cukup siap

Masalah seperti biaya pernikahan yang belum juga mencukupi, mental yang tidak siap, ataupun hasrat yang belum timbul mungkin seorang wanita belum berani berani mengambil keputusan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Dalam hal ini, keputusan mereka terbilang tepat, karena ketimbang memaksakan diri menikah, tetapi setelahnya harus terbebani dilema maka sama saja tidak ada artinya pernikahan terjadi.

– Trauma masa lalu

Masa lalu memang menjadi mimpi buruk untuk diterima seseorang dalam kehidupannya, apalagi bagi seorang wanita. Seorang wanita akan mengingat dengan detail kejadian kala dirinya pernah disakiti yang hingga menimbulkan luka di hati. Kenangan buruk masa lalu awalnya memang sulit dilupakan, dan butuh waktu untuk mengalihkan semua memori tersebut. Hal yang perlu kalian ingat, bagaimana pun juga hidup harus terus berlanjut. Tak ada gunanya berlarut-larut terperangkap dalam kenangan buruk. Apalagi sampai menunda kebahagiaan yang sudah ditakdirkan datang seperti pernikahan.

– Terbiasa bahagia sendiri
Orang yang merasa bahagia dengan kesendiriannya kerap menganggap pernikahan bukanlah suatu hal yang penting. Begitulah yang terjadi pada seorang wanita yang terbiasa dengan kesendirian, senang dan menikmati kehidupan lajang, padahal setiap hari ada petualangan baru yang selalu menunggu mereka. Bila kita bicara kehidupan sosial, kembali lagi bawa pada dasarnya tak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang bahagia dengan kesendiriannya. Manusia adalah makhluk sosial dan membutuhkan sosialiasi untuk bisa menjalani kehidupan.

– Masalah ekonomi keluarga

Motivasi seorang wanita yang memilih bekerja tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan materi pribadinya semata, banyak wanita yang terketuk nuraninya melihat kondisi ekonomi keluarganya yang berantakan. Apalagi bagi seorang wanita, mendapati kondisi miris seperti itu akan membuat nalurinya berjalan untuk mencari jalan membantu. Bekerja karena harus membantu keuangan orangtua untuk membiayai keperluan rumah tangga adalah hal yang mulia dibanding atas dasar karir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here